Wednesday, May 9, 2012

Mengembalikan Idealitas Mahasiswa

Akhir-akhir ini mahasiswa telah kehilangan eksistensinya. Mereka punya visi tanpa misi, raga bergerak tanpa nyawa, tanpa rasa. Yang mereka lakukan hanyalah berangkat kuliah, belajar, pulang lagi. Ada juga yang berorganisasi, tapi tak tahu apa yang akan dia lakukan di organisasi itu. Ia hanya sekedar menjadi EO, event organizer. Merasa bangga jika berhasil membuat acara besar, tanpa tahu apa tujuan awal keberadaan organisasi tersebut. Yang terjadi, organisasi mahasiswa kebanyakan hanya sebatas menjadi tempat latihan event organizing untuk para mahasiswa.


Dengan sistem pendidikan yang ada saat ini, mahasiswa dituntut untuk mempercepat studinya dengan target empat tahun lulus. Akibatnya, mahasiswa lebih mengutamakan kuliahnya dibanding aktifitas yang lain. Terlalu serius belajar, sehingga tak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana.

Jika kita flash back 15-25 tahun yang lalu, ada perbedaan yang sangat drastis pada mahasiswa. Mahasiswa dahulu identik dengan pemikiran yang kritis, global, futuris, dan idealis. Bagaimana sih, mahasiswa yang ideal? Mahasiswa sebagaimana juga seorang pemuda harus mempunyai kemampuan menyeluruh. Dia harus memiliki kemampuan akademis yang bagus, mempunyai jiwa yang tangguh (militan), mempunyai cara berpikir yang cerdas (strategis), dan tentunya bagi pemuda muslim harus menyadari dan mengaplikasikan keberislaman juga secara menyeluruh bukan sekedar ritual semata.

Di sinilah intinya, ‘idealis’. Mungkin idealis itu identik dengan perfeksionis, kesempurnaan, padahal tidak ada manusia yang sempurna. Dari pemikiran ini timbullah realistis, sesuai dengan kenyataan yang ada.

Namun jika kita hanya mengandalkan realita, kita hanya akan menjadi makhluk yang pesimistis. Kita juga butuh idealis, dalam artian kita mengharapkan sesuatu yang mendekati sempurna, sesempurna manusia. Dan ini akan menumbuhkan jiwa-jiwa optimis.

Apalagi kita sebagai mahasiswa, seharusnya mempunyai visi cemerlang ke depan. Punya jiwa-jiwa optimis, punya idealitas yang tinggi. Tetapi jika kita lihat di sekeliling kita, hanya sedikit teman yang memegang teguh idealitasnya. Erosi besar-besar oleh realitas telah mengubah kaum muda zaman ini.

Oleh karena itu kita harus bergerak. Mahasiswa adalah perwakilan pemuda, sekaligus agent of change, agen perubahan. Mengapa pemuda? Pada hakikatnya usia muda seorang pemuda ialah usia yang penuh dengan cita-cita yang tinggi dan darah yang gemuruh serta idealisme yang luas. Yaitu usia yang memberi pengorbanan, usia yang menabur jasa, memberi kesan dan emosional.

Islam, apabila ia menekankan supaya para pemuda melaksanakan hakikatnya yang menginginkan perubahan, berarti pemuda dituntut supaya mempunyai sifat-sifat Islam dan berpegang teguh dengan prinsip-prinsip Islam yaitu berkehendakkan generasi Islam yang tulen.

Kita adalah pemuda. Kita harus bergerak membangunkan kembali masyarakat kampus. Mengembalikan jiwa-jiwa patriotis pemuda dalam dada para mahasiswa. Jika pemerintah berusaha untuk menormalisasi kehidupan kampus dalam artian kehidupan mahasiswa hanyalah belajar, maka kita juga bisa melakukan hal yang sama: normalisasi idealisme kampus, mengembalikan idealisme masyarakat kampus. Banyak hal dapat kita lakukan, dari kampus untuk Indonesia.

Realisasi gerakan ini bisa melalui organisasi atau gerakan yang sudah ada. HMI, misalnya. Orgaisasi ini adalah organisasi kampus yang berkecimpung dalam masalah sosial. Dari HMI sedikit banyak kita bisa mengubah tatanan kehidupan baru di kampus.

Yang menarik bagi saya di sini adalah propaganda isu melalui media opini dan pencitraan publik. Propaganda di sini dalam artian mengembangkan dan memekarkan isu-isu dengan cara yang halus tanpa diketahui objek propaganda. Melalui media kita bisa mengubah dunia. Media adalah tempat untuk membentuk opini publik, membentuk cara berpikir yang baru. Sasaran utamanya  adalah pembentukan opini di media massa yang akan berpengaruh kepada masyarakat karena mobilitas penyebaran informasi yang luar biasa dari media massa.

Sesuai dengan tempat bertumbuhnya, media yang ada di kampus bertujuan mempropaganda masyarakat kampus. Kita bisa membentuk cara berpikir baru masyarakat kampus, membuatnya kembali menjadi masyarakat yang idealis.

Saat ini sadar atau tidak kita sedang dalam pengaruh propaganda pihak barat. Amerika dan sekutunya mempunyai kekuatan yang besar juga karena bantuan propaganda melalui media yang mereka punya. Amerika mengaku menjadi negara adikuasa, mengaku jadi pemimpin dunia. Memang, kalau kita percaya dengan  kebohongan mereka, kita akan dipimpin dan dikuasai oleh bangsa barat. Propaganda yang mereka lakukan hanyalah kebohongan, bukan fakta. Kenyataan yang terjadi saat ini Amerika sedang berada dalam krisis ekonomi. Jika pemodal asing ramai-ramai melepas investasinya dari Amerika, maka hancurlah ekonomi negara adidaya ini.

Hal yang sama juga bisa kita lakukan, propaganda. Jika kita menginginkan semua orang mengetahui, memahami, dan mendukung gerakan kita, kita harus melakukan propaganda. Pencitraan propaganda melalui media menjadi sangat efektif untuk hal ini. Melalui media massa kita bisa terus menerus berbicara ‘A’ supaya semua orang percaya dengan ‘A’.

Kita ingin mahasiswa mempunyai jiwa yang kritis terhadap isu-isu sosial. Maka kita bisa menciptakan opini publik dengan mengeluarkan media massa yang terus-menerus keluar dan kontinyu membahas masalah isu-isu sosial. Buletin atau Newsletter, misalnya. Masyarakat kampus akan terbiasa dengan apa yang mereka baca, sehingga pikiran mereka tertarik dan menyatu ke dalamnya.

Jiwa-jiwa optimis dan idealis pun bisa kita tanamkan melalui propaganda media. Mengajak mereka dalam diskusi isu-isu sosial, kajian strategis mengenai permasalahan bangsa, bahkan mengajak untuk aksi turun ke jalan pun juga memungkinkan jika media ini telah cukup menarik simpatik masyarakat kampus.

Yang kita harapkan adalah masyarakat kampus yang kritis, berpikir ke depan dan tidak menyerah pada realita semata. Dengan media kampus yang mempunyai pergerakan yang massiv, bukan tak mungkin masyarakat kampus yang ideal akan kembali di sini meski dengan versi yang berbeda

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home