Friday, June 3, 2011

Sunan Bonang dan Pengaruhnya di Tuban

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berpenduduk sangat majemuk dan dengan latar belakang historis yang berbeda-beda pula. Kekayaannya yang berwujud budaya serta lapisan-lapisan sejarah memungkinkan untuk menjadi sumber penulisan sejarah, termasuk peranan tokoh lokal yang memiliki pengaruh cukup besar dalam masyarakat luas. Banyaknya hasil penelitian sejarah lokal dapat mengembangkan perwujudan konsep kedirian Bangsa Indonesia secara umum.
Pemahaman di atas mendukung penulis untuk untuk melakukan studi tentang sejarah local dengan judul Sunan Bonang dan Pengaruhnya terhadap Islamisasi di Tuban pada Abad XVI. Rasa kagum atas kehebatan tokoh Sunan Bonang menjadi motifator utama dalam melakukan menelitian ini. Sunan Bonang merupakan salah satu penyebar Agama Islam di Pulau Jawa, khususnya di daerah Tuban. Beliau mempunyai andil yang cukup besar terhadap perkembangan Agama Islam selanjutnya. Oleh sebab itu pengenalan secara dekat terhadap latar belakang sejarah perjuangan Sunan Bonang sangat diperlukan untuk menyusun kerangka strategi dakwah Islam di era berikutnya, mengingat kondisi Tuban pada masa tersebut masih tunduk di bawah kekuasaan Majapahit yang sebagian besar masyarakatnya sangat kental dengan agama dan tradisi Hindu.
Tuban berada di wilayah pesisir pantai utara Jawa (pantura), yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya sebagai nelayan. Melalui jaringan inilah dakwah Islam merambat dengan cepat di lapisan bawah dan menyusup di urat nadi lapisan atas. Lewat proses ini, fenomena sejarah menunjukkan bahwa Islam di pesisir lebih puritan karena di daerah ini kebudayaan Islam relatif tidak mendapat perlawanan budaya asli setempat sebab pada umumnya masyarakat pesisir kurang memiliki identitas budaya.
Berdasarkan Babad Tuban, Islam masuk antara kurun waktu 1432-1450, ditandai ketika Harya Dhikara (1432-1450) sebagai Bupati Tuban memeluk agama Islam. Sedangkan berdasarkan berita dari China yang ditulis oleh Ma Hua dalam sebuah pelayaran pada tahun 1413-1415, di pesisir Tuban telah terdapat orang-orang muslim dari barat, jawa dan tiong-hua. Mengingat besarnya peran pedagang dalam menyebarkan Islam, maka dapat diperkirakan pada 1413 Islam sudah masuk di Tuban. Pada tahun 1413 atau kurun waktu 1432-1450 Islam masih belum dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat Tuban.
Ma Huan, seorang Tionghoa Islam yang datang ke Majapahit dalam tahun 1413 dengan jelas menyatakan bahwa penduduk kota Majapahit terdiri atas tiga golongan, yaitu: orang-orang Islam yang datang dari Barat, orang-orang Tionghoa yang kebanyakan memeluk Islam, dan rakyat selebihnya yang menyembah berhala.[1] Penduduk asli memakai kain ban baju, dan tiap laki-laki mulai anak berumur 3 tahun memakai keris, yang hulunya indah sekali, terbuat dari mas, cula badak atau gading. Kalau  mereka bertengkar, sekejap saja mereka sudah siap dengan kerisnya. Mereka biasa memakan sirih, senang mengadakan perang-perangan dengan tombak bambu pada perayaan-perayaan, suka bermain bersama waktu terang bulan dengan disertai nyanyian-nyanyian berkelompok dan bergiliran antara golongan wanita dan pria, gemar pula menonton (wayang beber).
 Masa seratus tahun yang terakhir dari Kerajaan Majapahit (± 1429-1522) tidak banyak yang dapat diketahui. Di bidang kebudayaan, masa pemerintahan Suhita (1429-1477) ditandai oleh berkuasanya kembali anasir-anasir Indonesia. Barbagai tempat pemujaan didirikan di lereng-lereng gunung, dan bangunan-bangunan itu disusun sebagai punden berundak-undak (berpuluh-puluh di lereng gunung Penanggungan, Candi Sukuh, dan Ceta di lereng gunung Lawu, dsb). Kecuali bangunan-bangunan terdapatkan juga batur-batur unutuk persajian, tugu-tugu batu seperti menhir, gambar-gambar binatang ajaib yang mempunyai arti sebagai lambang tenaga gaib, dll.[2]
Menjelang akhir abad XV keadaan Majapahit telah berubah, daerah-daerahnya di pesisir Utara pulau Jawa sudah Islam semuanya, dengan pusatnya di Jepara, Tuban, dan Gresik, di bawah pemerintahan para adipati yang masih tunduk kepada pemerintah pusat. Semakin besar masyarakat Majapahit yang memeluk islam, terutama di Tuban, menjadikan kekuatan Majapahit semakin melemah. Karena daerah-daerah yang telah menganut Islam memilih bergabung ke Demak. Hal ini akan lebih menguntungkan karena Kesultanan Demak dengan mereka seiman dan diyakini membawa sebuah harapan baru untuk hidup sejahtera.
Besarnya penganut Islam dan banyaknya ahli agama di Tuban yang memiliki ilmu mistik, memberikan suntikan moral bagi Tuban untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Majapahit. Sehingga ketika penyerangan Raden Patah ke Majapahit, Tuban di bawah kekuasaan Raden Haryo Tedjo ikut membantu Raden Patah untuk menyerang majapahit. Majapahitpun akhirnya jatuh ke tangan Demak, dan Tuban menjadi salah satu wilayah dari Demak.
Kehardiran Tuban bagi Demak memberikan keuntungan tersendiri, baik dari Ekonomi maupun kekuatan militer laut. Tuban kemudian di jadikan tempat perdagangan dan galangan kapal, karena geografis Tuban yang sangat strategis. Selain letaknya dekat laut, bahan baku pembuatan kapal juga banyak tersedia di Tuban. Hal ini menjadikan Tuban menjadi salah satu daerah terpenting, karena dari Tuban banyak menyuplai kapal untuk Demak.
Proses Islamisasi Jawa sebagai bagian utama penyebaran dan perkembangan Islam pada abad XV-XVI di Indonesia secara umum tidak dapat dipisahkan dari peranan para tokoh penyebarannya yaitu para wali khususnya Wali Songo.[3] Penyebaran Islam di Tuban secara intensif dan dapat diterima baru ketika jaman para Wali Sembilan mulai menyebarkan agama. Metode yang digunakan supaya ajaran Islam dapat diterima adalah dengan memasukkan kedalam unsur-unsur tradisi. Metode ini digunakan karena masyarakat Tuban sangat menjunjung tinggi adat dan istiadatnya, dengan cara ini Islam lebih muda diterima karena tidak mengubah adat dan tradisi yang ada.
Wali Songo memang mempunyai peranan yang sangat besar dalam pengembangan Islam di Indonesia. Bahkan mereka adalah perintis utama dalam bidang dakwah Islam di Indonesia, sekaligus pelopor penyiaran agama Islam di Nusantara. Mereka diberi gelar demikian karena dianggap penyiar-penyiar agama Islam yang terpenting atas kesungguhan mereka mengajar dan menyebarkan Islam. Di samping itu, mereka juga merupakan para intelektual yang menjadi pembaharu  masyarakat  pada  masanya.  Mereka  telah  mengenalkan  berbagai bentuk  peradaban  baru  yang  merangkumi  aspek  kesehatan,  pertanian, perniagaan, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan serta pemerintahan.
Dalam bidang sosial-politik periode munculnya para wali bertepatan dengan masa transisi antara akhir Majapahit dan masa Islam (Demak). Tatkala kekuasaan maharaja di pusat kerajaan yang dianggap sebagai titisan dewa (cultus dewa raja) runtuh, akan tetapi unsur kultur masyarakat yaitu kepercayaan terhadap raja sebagai titisan dewa tidak lenyap.
Seiring terpecah-pecahnya Majapahit menjadi berbagai kekuasaan lokal yang kecil-kecil, keyakinan atau faham cultus dewa raja tersebut mendapatkan wujud saluran di tingkat lokal, yaitu pengkultusan kepada penguasa-penguasa setempat. Ternyata penyaluran keyakinan tersebut tidak sepenuhnya hingga kemudian bergeser kepada tokoh keagamaan yang memiliki hubungan kekerabatan erat dengan para penguasa atau raja. Seperti Sunan Bonang yang merupakan putra dari Sunan Ampel dan juga cucu Adipati Tuban. Hal inilah yang membuat kharisma Sunan Bonang disegani oleh masyarakat Tuban pada kala itu, sehingga dakwah islamiah dapat dilakukan dengan mudah oleh beliau selama di Tuban.
Kondisi masyarakat yang belum sepenuhnya Islam, mampu di Islamkan tanpa ada perlawanan ataupun perselisihan antar keyakinan yang dianut. Selain kharisma sebagai cucu Adipati Tuban, dalam dakwahnya Sunan Bonang tetap melestarikan unsur tradisi budaya setempat dan memadukannya dengan ajaran Islam. Sunan Bonang juga memperkenalkan beberapa jenis alat musik dan syair yang bernafaskan Islam dengan bahasa jawa kuno yang digunakan oleh masyarakat pada sekitar abad XV.
Ajarannya tersebar luas di hampir seluruh pelosok tanah Jawa, khususnya di Kabupaten Tuban, tempatnya mendirikan pondok pesantren yang menjadi pusat dakwah Sunan Bonang. Beliau mendakwahkan Islam bersamaan dengan pengembaraannya di tanah Jawa, sampai hatinya tertambat pada Kabupaten Tuban yang kelak menjadi tempat peristirahatan terakhir beliau. Semasa hidupnya, Sunan Bonang menjadi panutan bagi masyarakat dalam bertindak maupun berdakwah, karena keimanan dan kesalehannya yang dinilai tinggi.
Sunan Bonang dalam berdakwah, terkenal piawai mewarnai kondisi saat itu dengan corak ajaran Islam. Sehingga beberapa kegiatan yang sebenarnya bukan merupakan tuntunan dalam Islam, menjadi seperti ajaran Islam. Sunan Bonang juga menciptakan gending Darmo serta berusaha mengganti hari-hari naas menurut kepercayaan Hindu dan nama-nama Dewa Hindu digantinya dengan nama-nama Malaikat dan Nabi sesuai ajaran Islam. Kepiawaian Sunan Bonang juga dibuktikan dengan adanya suluk-suluk ciptaan beliau dengan bahasa prosa, yang berisikan tentang ajaran Islam.
Metode dakwah yang digunakan Sunan Bonang sangat efektif dan tidak merubah tatanan tradisi yang telah ada. Tradisi Islam dan Hindu-Budha hidup saling berdampingan, bahkan tradisi Islam yang dibawa oleh Sunan Bonang berkesinambungan dengan tradisi Hindu yang sudah ada, seperti Nampak pada peninggalan kepurbakalaan Sunan Bonang. Hanya saja, semua tetap bernafaskan Islam.
Fakta Sejarah yang mendukung kesinambungan tradisi Islam Sunan Bonang dan tradisi Hindu adalah dengan ditemukannya Kalpataru pada komplek makam Sunan Bonang. Menurut Suwardjan dan Siti Alfiah yang disebut Kalpataru adalah sebuah karya bercabang lima dan berukir tersebut terlihat adanya bangunan yang dinaungi pohon-pohon. Bagunan tersebut antara lain bangunan rumah bertiang lima dan hiasan kepala binatang yang sudah tidak jelas lagi bentuknya. Di samping itu juga terdapat relief suatu bangunan yang menyerupai bangunan jandi Jawa Timur. Bangunan itu mempunyai tangga masuk dinaungi pula oleh pepohonan. Pada cabang-cabang kayu terdapat naga yang melilit pada kayu tersebut, tetapi sudah dalam keadaan rusak dan rapuh.
                Semasa Perjuangan menyebarkan Islam, Sunan Bonang dikenal sebagai pendukung utama Kerajaan Demak. Berkat Sunan Bonang pengaruh kesultanan Demak di Tuban semakin besar seiring bertambahnya penganut Islam di Tuban. Pengaruh Sunan Bonang masih terasa hingga sekarang, ajaran serta makamnya masih banyak diminati oleh umat muslim dari seluruh penjuru pulau Jawa.
Penulisan ini diilhami dari adanya buku-buku yang berisi tentang kajian dakwah walisongo di Tanah Jawa, khususnya yang membahs tentang dakwah Sunan Bonang di wilayah Kabupaten Tuban. Namun, tidak banyak buku yang berisi kajian tersebut, dan umumnya hanya mengkaji sepintas saja. Jadi, tinjauan dari kajian ini hanya terbatas pada pada buku-buku yang relevan (sesuai) dengan pembahasan kajian tersebut.
Penelitian yang berjudul “ Sunan Bonang dan Pengaruhnya terhadap Islamisasi di Tuban pada Abad XVI”, memiliki fokus pembahasan bahwa dengan dakwah Sunan Bonang mampu merubah masyarakat Tuban yang masih memegang teguh tradisi Hindu menjadi muslim tanpa terjadi pertentangan antar budaya. Penelitian ini berisi tentang dakwah Sunan Bonang dan bagaimana perkembangan serta pengaruhnya terhadap masyarakat setempat. Selain itu juga berisi tentang bagaimana latar belakang Sunan Bonang dari tinjauan genealogi yang merupakan keturunan dalam silsilah para wali sekaligus bangsawan kerajaan Majapahit.
Adapun literatur yang berisi kajian tentang Sunan Bonang dan Pengaruhnya terhadap Islamisasi di Tuban pada Abad XVI diantaranya: ”Het Boek van Bonang”, karya B. J. O. Schrieke tahun 1916. Buku ini sekaligus menjadi sumber utama karena banyak menuliskan perihal Sunan Bonang dan menyertakan sumber-sumber primer berupa inskripsi dan beberapa karya Sunan Bonang. Buku berbahasa Belanda ini menuliskan secara sistematis mulai dari kebangkitan Islam di nusantara yang ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Samudra Pasai, masuknya Islam ke Jawa yang dalam buku tersebut dijelaskan sebagai perluasan dari Islam di Malaka, cara-cara penyebaran Agama Islam, legenda Sunan Bonang serta peran beliau sebagai pemuka agama di Jawa, sejarah Sunan Bonang dari silsilah dan ajaran yang dikembangkan oleh Sunan Bonang.
 Literatur lain yang terkait dengan pokok kajian yaitu Buku ”Sunan Bonang”, karya Arman Arroisi tahun 1993. Buku ini lebih dominan berisi legenda tentang perjalanan Sunan Bonang selama berdakwah di Tuban. Beberapa informasi di dalamnya bersifat mistis atau mitos, tentang kegaiban yang pernah terjadi selama dakwah Sunan Bonang. Buku “Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara ”, karya M. Solihin tahun 2005 membahas secara garis besar tentang masuknya Islam di Pulau Jawa. Buku ini menjelaskan bahwa masuknya Islam di Pulau Jawa tidak lepas dari kegigihan perjuangan para wali, yang disebut dengan Wali Songo (Sembilan Wali).
Pengertian Wali Songo dapat dipahami secara denotatif maupun konotatif. Dalam pengertian denotatif, nama Wali Songo berarti sejumlah guru besar atau ulama yang diberi tugas untuk berdakwah dalam wilayah tertentu. Dalam pengertian konotatif bahwa seseorang yang mampu mengendalikan babahan hawa sanga (sembilan lubang pada diri manusia), maka dia akan memperoleh predikat kewalian yang mulia dan selamat dunia akhirat.[1]
Arti kata “wali” antara lain berarti pembela, teman dekat, dan pemimpin. Dalam pemakaiannya, kata ini biasa diartikan sebagai orang yang dekat dengan Allah (waliyullah). Ada pun kata “songo” (Bahasa Jawa berarti sembilan. Maka Wali Songo secara umum sering diartikan sebagai sembilan wali yang dianggap telah dekat dengan Allah, terus-menerus beribadah kepada-Nya, serta memiliki kekeramatan dan kemampuan-kemampuan lain di luar kebiasaan manusia.[2]



[1]  Purwadi, Babad Tanah Jawi, (Yogyakarta: Pustaka Alif, 2001), hlm. 28.
[2] Abd. Aziz Dahlan et. al., Ensiklopedi Islam, Jilid 1-7, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999), hlm. 173-174.
 



[1] R. Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Kanisius. 1981. Hlm. 45.
[2] R. Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius. 1981. Hlm. 78.

[3] Aminuddin Kasdi dalam pengantar buku Sjamsudduha. Menyingkap Misteri Para Wali dan Perang Demak-Majapahit Telaah Manuskrip Pegon Badu Wanar dan Drajat. 2006. Yogyakarta: JP. Books. hlm. ix.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home