TITIPAN SEORANG SAHABAT
Mahasiswa = Apatis/ Pragmatis/ Hedonis
Manusia memiliki kecenderungan dalam hidupnya. Kecenderungan untuk
menghindari rasa sakit dan mengusahakan rasa nikmat. Kecenderungan ini
bersifat individual yang kuat dan dalam masyarakat prakteknya antar
individu memiliki kada dan metode yang unik antara yang satu dengan yang
lainnya. Tidak sedikit individu menjadikan nikmat sebagai tujuanutama
dalam hidupnya dan menomorsekiankan sekian hal yan g lebih bermakna
untuk hidupnya baik secara langsung atau tidak.
Pada dasarnya, nikmat
itu sebenarnya tidak dapat dijadikan tujuan utama kita dalam
melangkah. Nikmat justru akan menghilang kalau kita jadikan tujuan
utama, akan tetapi nikmat itu sebenarnya ada di balik setiap tindakan
bermakna yang kita kerjakan. Nikmat akan setia mengikuti setiap
tindakan bermakna kita. Manusia hidup bijaksana semakin ia
mengembangkan diri secara utuh. Pengembangan diri ini yang harus kita
garis bawahi dan temukan apa dan bagaimana sebenarnya yang harus
direncanakan.
Orang tidak berkembang dengan memandang, merenung, dan
merefleksikan diri (meski kadang itu perlu) melainkan dengan melihat
keluar, dengan menjawab apa yang dalam situasi tertentu diharapkan dari
kita. Kesalahan persepsi personal (khususnya para pemuda) dalam
dinamika kehidupan mengarahkan mereka pada karakter apatis, hedonis,
dan pragmatis. Dengan hanya memandang, merenung dan merefleksikan saja,
mereka anggap itu semua yang terbaik dan seharusnya mereka lakukan.
Kalaupun harus menganalogikan dalam lingkup agama, sifat ini hanya pada
tataran mengaku beragama, merenungkan ajaran yang ada di dalamnya dan
merefleksikan terhadap dirinya tanpa adanya prakterk real yang
benar-benar keluar secara murni untuk beribadah sesuai kepercayaannya.
Pola
hidup yang pragmatis terkadang bisa kita benarkan. Pada hakikatnya
memang setiap keterampilan dan ajaran begitu pula tindakan dan
keputusan tampaknya mengejar salah satu nilai. Akan tetapi, nilai ini
menjadikan tolak ukur apakah kita sudah maksimal mengembangkan diri
secara utuh untuk menjadi manusia yang bijak. Nilai yang kita jadikan
sasaran utama apakah merupakan nilai tertinggi yang bisa dicapai dalam
upayanya (tentu dengan tindakan penuh makna). Nilai-nilai ini dalam
setiap tindakan yang akan memberikan bandrol berkualitas tinggi, sedang
atau rendah atau bahkan buruk dari si pelakunya.
Melihat fenomena
yang terjadi pada kaum intelektual kita "mahasiswa", mereka datang dari
latar belakang yang unik begitu juga dengan "nilai" sebagai tujuan
utama merekapun pastinya juga unik. Nilai tertinggi yang mereka anggap
dapat mereka representasikan berbeda kadarnya. Semisal, mahasiswa
akademisi berpandangan ilmu saluran dari pengajar dan buku ajar yang
disedikan sudah begitu kaya bagi mereka. Tujuan mereka tidak lain
adalah abjad sebagai representasi nilai kumulatif yang akan mereka
terima di akhir semester (terlepas penilaian itu bersifat subjektif atau
objektif). Mahasiswa ini sering mendapat perlakuan istimewa dari pihak
lembaga, padahal kontribusi yang mereka berikan tidaklah jelas, bahkan
hanya utuk dirinya sendiri. Kelompok mahasiswa ini bisa dianalogikan
sebagai "mahasiswa bebek", mudah digiring kemana saja sesuai kebijakan.
Berbeda
dengan mahasiswa berlabel organisatoris, dimana mereka belajar tidak
hanya pada teori saja, melainkan terjun langsung dalam praktek miniatur
sebuah masyarakat. Sebagai manusia dengan jiwa sosialnya. Mahasiswa
ini akan selalu menjadi pertimbangan lembaga dalam menentukan setiap
kebijakan. Mahasiswa ini sadar peranannya sebagai kaum intelek, dimana
turut menjadi bagian dari perubahan setiap fenomena yang nampak tidak
sinergis, menjadi kontrol dari setiap kebijakan.
Kita harus menyadari
bahwa pendidikan itu lebih dari sekedar semacam pengkondisian, tapi
pembiasaan belajar melakukan secara rutin, gampang dan seakan-akan
dengansendirinya merupakan unsur penting dalam pembangunan karakter
seseorang.
Pendidikan sebenarnya memberikan dua tawaran, yakni episme
: ketajaman pengetahuan ilmian dan phronesis : kebijakan praktis
(tidak dapat dipelajari dari buku melainkan berdasar pengalaman).
Phronesis sangat diperlukan dalam setiap permasalahan dalam
pengambilankeputusan dan tindakan yang bersumber dari realita yang
pernah dialami. Akan tetapi, terkadang episme juga diperlukan dalam
beberapa kasus yang membutuhkan kajian ilmiah sebagai pisau bedah.
Semua
kita kembalikan pada pribadi kita masing-masing. Tergantung kita dalam
menentukan nilai yang akan kita dapatkan serta label mutu yang akan
kita terima dengan sendirinya. Bergantung pada bagaimana kita
mengkonsep sedemikian rupa langkah kita serta tindakan-tindakan bermakna
yang kita lakukan dalam konsep itu. Sudah jelas sekarang, hasil akhir
bukanlah tujuanutama melainkan proses adalaha harga mati bagi mereka
yang mau memaknainya.



0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home