Thursday, April 7, 2011

Pers Tahun 50'an

Pada zaman kolonial, nasionalisme tumbuh sebagai semangat yang meresap di kalangan penduduk pribumi. Dengan sendirinya, nasionalisme terjalin ke dalam sejarah pers pada masa awal.
Dalam dasawarsa terakhir terlihat makin banyak penelitian mengenai kehidupan pers di Indonesia, baik yang mengenai zaman kolonial Hindia-Belanda maupun setelah kemerdekaan Indonesia. Yang bersifat dokumentasi, seperti katalog di Perpustakaan Nesional yang memuat daftar koleksinya antara tahun 1810-1977[1] dan sebuah katalog induk internasional tentang surat kabar Indonesia.
Juga yang berupa buku, seperti penerbitan populer Serikat Penerbit Surat Kabar Pusat (SPS)[2], telaah tentang pers Melayu-Tionghoa di Jawa sebelum perang, sejarah pers dalam konteks lokal dan daerah serta telaah hubungan pemerintah Indonesia dengan pers dalam masa Demokrasi Terpimpin. Juga telaah-telaah ilmiah yang belum diterbitkan seperti sebuah analisis pers di Jakarta dalam masa gejolak politik pada tahun 1966 dan sejarah penindasan terhadap pers di Indonesia  (1949-1965).
Pers peranakan Tionghoa yang muncul di Indonesia mula-mula dalam bahasa Melayu-Tionghoa dan bukan dalam bahasa Tionghoa asli. Hal ini dikarenakan perantau Tionghoa yang menetap di Jawa turun-temurun, kebanyakan tidak dapat berbahasa Tionghoa lagi, bahkan kebiasaan mereka pun berbeda dengan totok Tionghoa. Bahasa mereka sehari-hari adalah bahasa Indonesia setempat. Di Jakarta, peranakan Tionghoa berbahasa Betawi. Maka maka dipahami jika bahasa yang mereka gunakan dalam surat-surat kabar ialah bahasa yang paling mereka kenal, yaitu sejenis bahasa Melayu yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Hokkian, yang kemudian dikenal sebagai Bahasa Melayu-Tionghoa.
Pers Melayu-Tionghoa mempunyai masalah sendiri sebagai usaha dan suara golongan usahawan Tionghoa. Golongan Tionghoa yang lebih makmur daripada golongan bumiputra, dengan sendirinya merupakan pelanggan surat kabar yang mampu membayar lengganan dengan teratur. Modal yang menjadi syarat usaha percetakan dan penerbitan pun mudah didapat bagi usaha pers, baik melalui ikatan keluarga maupun dunia usaha. Itulah sebabnya mengapa pers Melayu-Tionghoa pada umumnya lebih kuat dari pada pers Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Demikian juga pers yang berbahasa Tionghoa.
Kepercayaan pada diri sendiri golongan Tionghoa makin besar setelah pecahnya Revolusi Tiongkok pada tahun 1911 pimpinan Dr. Sun Yat Sen, yang mulai mewarnai surat kabar Melayu-Tionghoa dengan berita politik. Salah satu surat kabar yang penting pada waktu itu di Jawa adalah Keng Po yang terbit di Jakarta (1923-1957).
Begitu tercapai kemerdekaan, nasionalisme tertanam sebagai faktor integral dalam falsafah politik. Paska pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949, peranan pers menjadi semakin aktif dalam sejarah Indonesia. Situasi di Indonesia pada masa awal kemerdekaan hingga demokrasi parlementer, banyak diwarnai oleh perjuangan partai-partai politik yang saling memperebutkan kekuasaan di negeri ini. Suatu unsur yang senantiasa berpengaruh serta mengkhawatirkan dalam politik Indonesia pada waktu itu adalah munculnya partai komunis, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai tersebut justru mendapat 13 dari 232 kursi dalam parlemen pertama Republik Kesatuan tahun 1950.
Di tengah-tengah panasnya situaasi politik di Indonesia, surat kabar mingguan Keng Po yang sudah memulai sejarahnya sejak tahun 1923, terbit kembali dengan Injo Beng Goat sebagai pimpinan redaksi yang baru.[3] Injo Beng Goat terkenal sebagai tokoh anti komunis dan sangat berpihak dan mendukung keutuhan Republik Indonesia.  Dalam edisinya, Keng Po banyakmemberitakan tentang situasi politik di pemerintahan disertai kritik-kritik yang tajam. Harian-harian dan penerbit-penerbit yang menonjol dalam persengketaan dengan pemerintah, makin lama makin bertindak sangat kritis termasuk Keng Po di bawah pimpinan yang baru Injo Beng Goat.
Kemunculan kembali Keng Po dalam ranah pers di Indonesia merupakan tantangan tersendiri bagi pemerintah yang tengah berkuasa terutama jika dikaitkan dengan keberadaan Partai Komunis Indonesia yang semakin eksis melakukan kudeta terhadap pemerintahan Sukarno-Hatta. Injo Beng Goat dalam surat kabarnya, Keng Po sangat aktif melancarkan kritik-kritik yang ditujukan pada PKI. Namun pada wakti itu pemerintah justru memberikan kelonggaran kepada PKI untuk menduduki kursi parlemen sehingga akar-akar komunisme tertanam semakin luas dan kokoh. Tulisan-tulisan Injo Beng Goat dianggap menimbulkan kericuhan dengan kritik-kritiknya terhadap pemerintah.
Beberapa surat kabar melakukan hal yang sama, yakni melancarkan kritik-kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah (presiden) terutama berkenaan dengan PKI. Akhirya dikeluarkan surat peringantan dan teguran dari pemerintah melalui Sekretaris Jendral Kementrian Penerangan Roeslan Abdulgani bagi surat-surat kabar yang melemparkan kritik dan tulisan-tulisan yang dianggap akan menjatuhkan pemerintah dan memecah kesatuan RI.[4] Tetapi meskipun telah mendapatkan surat peringatan, beberapa surat kabar termasuk Keng Po masih tetap memuat kritikan yang ditujukan kepada pemerintah.
Setelah garis perjuangan mulai tampak, bentrokan antara pers dan pemerintah semakin memuncak dalam bentuk tindakan-tindakan terhadap para anggota redaksi serta para penulis secara pribadi. Jenis-jenis tuduhan yang dilontarkan terhdap pers sangat beragam. Dari penjelasan di atas bisa dibayangkan bagaimana perjuangan Keng Po dengan pimpinan Injo Beng Goat yang anti komunis memperjuangkan ideologinya. Berdasarkan latar belakang ini maka perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut mengenai dinamika perjuangan surat kabar Keng Po dalam kurun waktu tahun 1950-1957. Oleh karena itu peneliti menentukan judul “Perjuangan Surat Kabar Keng Po dalam Menentang Komunisme di Indonesia (1950-1957)”.


[1] Mastini Hardjoprakoso, 1977, “Katalog Surat Kabar Koleksi Perpustakaan Museum Pusat 1810-1977”, dalam Sejarah Pers di Indonesia, Sumber dan Hasil Penelitian Awal, Deppen-Leknas-LIPI, Jakarta.
[2] Serikat Penerbit Surat Kabar Pusat, Garis Besar Perkembangan Pers Indonesia, Jakarta 1971. Lihat juga Sudarjo Tjokrosisworo, Kenangan Sekilas Perdjuangan Pers Sebangsa, SPS, Jakarta 1958.
[3] Injo Beng Goat adalah pimpinan redaksi ketiga setelah Hauw Tek Kong dan Khoe Won Sioe (mantan pimpinan redaksi Sin Po sebelum Tjoe Bouw San). Penjelasan lebih rinci mengenai pergantian pimpinan redaksi bisa dilihat pada Memoar Ang Yan Goan 1894-1984, hlm. 65-70
[4] Lihat Edward C. Smith. Pembreidelan Pers di Indonesia. hlm. 77

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home